agenbolaonline.org – Syekh Abu Bakar bin salim ialah seorang ulama Yaman apa memiliki nasab bersambung hingga Rasulullah saw. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim batin berbagai ilmu agama. Namanya harum sehingga dikenal dan dikenang di berbagai penjuru dunia.

Anda sedang menonton: Syech abu bakar bin salim

Syekh Abu Bakar bin salim kesehariannya dipenuhi mencapai hal-hal yang bermanfaat dan full kebaikan. Sunah-sunah Rasulullah saw. Dikerjakannya tidak punya ada apa tertinggal. Hidupnya selalu membawa kedamaian dan kesejahteraan karena masyarakat sekitarnya.


*

Disebutkan batin sebuah riwayat bahwa beliau tiap harinya itu produksi seribu potong roti untuk dibagikan nanti masyarakat sekitarnya dan selalu menjamu tamu menjangkau jamuan yang megah dan mewah. Tamu-tamunya selalu disembelihkan unta guna menghormatinya.

Suatu saat, ada seorang wanita tua yang berusaha menyenangkan trần sang Habib mencapai memberikan segenggam gandum yang dimilikinya. Dibawanya gandum itu setelah rumah Sang Habib. Sesampainya di dokter rumah Habib Abu Bakar, ia pun memberikan salam kepada tuan rumah. Pembantu Syekh Abu Bakar keluar karena menemui sang nenek.

“Engkau sedang mencari siapa, duhai nenek?” meminta pembantu Syekh Abu Bakar. “Aku sedang mencari Syekh Abu Bakar untuk memberikan gandum ini,” jawab nenek itu sembari demonstrasi gandum apa ada di tangannya.

Pembantu Syekh Abu Bakar bin salim berkata “Kau mau memberikan gandum menemani itu kepada Syekh Abu Bakar, sedangkan engkau mengetahui bahwa tiap harinya dapur Syekh Abu Bakar tidak pernah kurang di dalam membuat seribu potong roti dan rumah beliau selalu dipenuhi makanan buat menjamu tamu beliau.”

Mendengar ucapan tersebut, Nenek itupun sedih dan ia pun beranjak pulang. Rupanya, Syekh Abu Bakar bin salim mengetahui perihal maafkan saya yang terjadi di dore rumahnya. Beliau pun langsung dilepas rumah untuk menemui sang nenek. “Ada tujuan apa engkau ke rumahku,” bertanya Syekh Abu Bakar bin Salim. “Aku ingin memberikan gandum ini kepadamu, Tuan,” jawab sang nenek.

Syekh Abu Bakar bin pembunuhan “Alhamdulillaah. Terima kasih. Harapan Allah membalas kebaikanmu mencapai kebaikan yang banyak.” Nenek itupun pulang dengan trần yang sangat bahagia dan gembira.

Syekh Abu Bakar bin pembunuhan menasihati pembantunya bahwasanya seorang hamba tidak akan sampai diatas derajat apa tinggi di sisi Tuhannya kecuali dengan mengolah perasaan rakyat lain.

Kisah kehidupan beliau di atas merupakan cerminan daripada akhlak datuknya yakni Nabi Muhammad saw. Pernah suatu saat, Rasulullaah saw. Diberi hadiah oleh sahabatnya sekeranjang buah, noel seperti biasanya, beliau saw. Apa ketika diberi hadiah papan pastilah menjadi membagi-bagikan makanannya.

Lihat lainnya: Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah, Lengkap Beserta Bacaan Doanya

Namun saat itu, satu berani buah itu output dikeluarkan sendiri melalui Nabi Muhammad saw. Melihat basi Nabi, para sahabat bertanya-tanya what yang sedang terjadi. Penyimpangan seorang sahabat bertanya, “Duhai Rasulullaah, mengapa baginda memakan seluruh buah akun itu sendirian tidak punya menawarkan kepada salah seorang middle kami?” Nabi Muhammad saw. Pun angklung dengan senyuman yang sepenuhnya keindahan di samping itu berkata, “Aku memakan seluruh buah ini dikarenakan rasanya yang masam. Jika aku berikan buah ini kepada penyimpangan seorang di antara kalian, lantas kami memakannya, maka aku kegelisahan wajah kalian menjadi menampakkan permukaan ketidaksukaan terhadap buah ini, dan itu menjadi menyakitkan perasaan orang apa memberikan buah ini. Pikirku, aku ini adalah memakan seluruh buah ini dan menyenangkan trấn si pemberi. Aku noel ingin menyakitkan hati si pemasok buah ini.”

Menjaga perasaan hati seseorang adalah akhlak Nabi Muhammad saw. Beliau menahan dirinya agar selalu menyenangkan setiap orang yang ditemuinya dan tidak ingin menyakiti seorangpun. Bahkan, ketika Nabi saw. Disapa melalui masyarakatnya, beliau pun menghadapkan seluruh tubuhnya usai arah orang apa menyapanya buat menghormatinya.