25 Desember 2017 Nadia # berry komentar Arie Untung, Ayat-ayat kekasih 2, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Fedi Nuril, movie dan Hiburan, Pandji Pragiwaksono, Tatjana Saphira
*
Ikuti kita di Google news

Oleh Nadia

Akhir tahun 2017 ada satu film yang pasti siap ditunggu lama melalui ibu-ibu dan fans “AAC” atau Ayat-Ayat Cinta. Film yang rilis pada tahun 2008 itu mendesak ngehits pada masanya. Menampakkan di five 2017 muncul sequel-nya yaitu Ayat-Ayat tercinta 2. Saya belum menonton Ayat-Ayat Cinta, enim review kali ini just membahas Ayat-Ayat kekasih 2 saja tanpa kecepatan dengan film sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta.

Anda sedang menonton: Spoiler ayat ayat cinta 2

Jangan khawatir, ini “spoiler free review”.

Plot Cerita

Film itu dimulai dengan opening scene yang cukup “mengejutkan” dan pakai CGI apa cukup baik. Terdekat isi cerita film sendiri sedikit lifted konflik di Timur tengah dan postur rasisme terhadap umat Islam atau Islamophobia apa dihadapi sang tokoh major Fahri (Fedi Nuril) di London, dan tentunya dengan dibumbui romance sang tokoh utama. Dari segi konspirasi cerita rasanya biasa saja dan lebih terasa kemudian film edukasi kyung permasalahan apa sering dihadapi oleh umat Islam. Barulah di bagian beranjak film ada konfigurasi twist apa cukup noël terduga (meski noël terlalu mengagetkan bagi saya) dan menambah unsur keunikan dalam konfigurasi cerita.

Soal merencanakan cerita, memang film Ayat-Ayat cinta 2 ini bertujuan buat menyajikan permasalahan Islamophobia dan di mana cara bijak untuk umat Islam menghadapinya. Tetapi menurut saya acibe penyajiannya bisa mempan lebih menarik. Ada beberapa adegan apa berpotensi karena membuat penyajian yang lebih menarik, misalnya pada bagian markas besar film bagaimana itu? ada adegan bahas ilmiah antar kubu Fahri dan pihak yang anti. Tapi sayang sekali bagian ini tidak diberi porsi apa lebih baik sehingga akhirnya menjadi adegan klise dan terkesan tidak ilmiah. Just menjadi hanya ajang penyampaian quote oleh satu-dua pakar. Padahal jika adegan debat ini dibuat dengan berat lebih serius sepertinya akan were bagian apa sangat menarik.

Karakter

Film ini cukup bertabur bintang. Cast yang were karakter dalam film ini antara lain; Fahri (Fedi Nuril), tokoh utama dan dosen yang sangat agamis dan baik. Selanjutnya ada sidekick buat comic-relief yaitu Hulusi (Pandji Pragiwaksono) dan Misbah (Arie Untung). Hulusi adalah rakyat Turki yang dulu asisten Fahri dan Misbah adalah teman Fahri sewaktu kuliah. Figure wanitanya ada Sabina (Dewi Sandra) such imigran gelap, Keira (Chelsea Islan) bertetangga Fahri apa Islamophobia, dan Hulya (Tatjana Saphira) keponakan Aisha.

Di awal film saya merasakan interaksi kotak dialog antar cast (pemain) kesan kaku buat dialog disampaikan secara kurang natural. Misalnya figure A berbicara, lalu B mencapai segera menanggapi, noël ada jeda antar dialog. Tapi seiring film berjalan, interaksi antar cast membaik dan kekakuan itu noel lagi terlalu terasa.

Untuk peran, figure cast di film ini terasa sangat hitam-putih atau sudah terbagi dengan jelas sisi baik-jahatnya. Selain akun itu bagian yang sangat menggangu saya adalah penggunaan bahasa yang dicampur aduk. Bahasa yang ada di film ini sangat kawanan walau porsinya sedikit dan tanggung. Begini pemfitnahan contohnya (hanya ilustrasi, ndak dialog aktual batin film tsb):

Murid: “Wow, the is pameran off. The is hanya a substitute. Dialah itu nggak berhak nyuruh kita…”Murid 2: “Ya, tapi dia noel salah. What’s wrong through you ? dia kan tetap…”

Jadi penggunaan kalimat dalam satu adegan berubah-ubah sering sekali dan bukan just antara Bahasa Inggris-Indonesia saja. Ada tambahan bahasa lain such Bahasa Arab, Bahasa Jawa, ataukah bahasa lain yang porsinya lebih sedikit tapi berubah-ubah ke Bahasa Indonesia. Memang wajar, ini film Indonesia yang berlatar lokasi di Inggris dan aktornya pun berbahasa Indonesia. Akan sukar jika semua dialog di dalam bahasa Inggris, atau jika semua dialog dalam Bahasa Indonesia noël akan ada nuansa bahwa film ini berlatar keluar negeri. Tapi bukannya lebih baik jika perubahan bahasa menyertainya per-adegan dan ~ no seperti contoh di atas? ataukah harusnya diimplikasikan dari awal cerita bahwa mereka berbahasa Inggris walau dialog batin Bahasa Indonesia. Perubahan bahasa apa acak kemudian ini malah untuk membuat canggung.

Pengambilan lukis dan Musik

Dari segi pengambilan cat, dll menurut saya kurang. Baru-baru ini framing kurang terasa pas, lalu shoot adegan yang terlalu menutup menyorot wajah atau malah terlalu jauh.

Untuk musik, di beberapa bagian terkadang terasa terlalu nyaring atau menganggu adegan, tetapi selebihnya bagus.

Lihat lainnya: Pidato Maulid Nabi Muhammad Saw Di Sekolah Yng Singkat, Pidato Tentang Maulid Nabi Di Sekolah Yng Singkat

Kesimpulan

Walau kerumunan hal-hal apa menurut saya kurang, plot-nya tetap cukup seru untuk diikuti dan berlanjut 130 menit noël terasa lama. Buat fans Ayat-Ayat cinta 2 wajib nonton sequel ini, dan bagi yang ~ no (belum pernah menonton movie sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta, seperti saya) dicoba saja dulu siapa tahu tertarik.