*
Ong bing Hok, sang pengarjin Rumah kertas dari town Semarang. (agenbolaonline.org/ Audrian F)

di dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas menjadi sesembahan karena para mendiang. Di Semarang, deviasi seorang pengrajin rumah-rumahan yang also disebut kemudian rumah arwah ini, apa mungkin paling dikenal masyarakat, adalah Ong bing Hok.

agenbolaonline.org- “Dalam kepercayaan kami, orangmeninggal rohnya tambahan harus diberi rumah,” begitulah kata Ong bing Hok, pengrajin rumah kertas dari town Semarang, menyambut kedatangan saya. Lelaki paruh baya itu tengah duduk sembari pemantauan pekerjaan pegawainya saat saya datang nanti rumah produksinya.

Anda sedang menonton: Rumah kertas untuk orang meninggal

“Kalau nggak dikasih rumah, arwahnyabisa tersesat,” sambungnya menerangkan rumah-rumahan yang juga biasa dinamai rumah arwah tersebut. Penjelasannya segera saya timpali mencapai mengangguk dan tersenyum sebagai sign mengerti.


berpengalaman Juga: yang Mengungsi dari Gunung Merapi: Seadanya, Relakan semuanya Demi Nyawa!

Perlu kamu tahu, di dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas atau rumah arwah merupakan sesembahan apa dihadiahkan karena kerabat yang sudahmeninggal. Secara simbolik, hadiah ini kemudian "dikirim" usai mendiang mencapai cara dibakar.

Di Semarang, turun-temurun familic Ong bing Hok were pembuat rumah arwah. Saat ini, dialah adalah generasi ke-4 penerus usaha yang berlokasi di GangCilik, Kawasan Pecinan, Semarang Tengah, itu. Rumah kertas Hok, namanya.

“Kakek buyut saya dulu nguyên Tionghoa. Kemudian melahirkan kakek saya apa merantau nanti Indonesia,” jelasnya.

Rumah small di gang Cilik

*
Menyambangi tempat membuat Rumah kertas Hok, jangan membayangkan lokasinya adalah sebuah pabrik geram dengan gudang apa megah. Tidak! "Studio" untuk membuat Ong hanyalah rumah kecil di deviasi satu pojok Gang Cilik, benar di depanKlenteng Hoo Hok Bio.

Dari satu generasi usai generasi lain, di situlah tempatnya. Hm, saya pun sempat kejut dengan rumah membuat tersebut. Namun, di secara spasial itulah rumah kertas berbanderol jutaan rupiah dibuat. Di situ pula banyak orang were pelanggan setianya.


Lelaki berkacamata itu juga mengimbuhi, yang most penting dan bernilai dari sebuah rumah arwah bukanlah bahan-bahannya, melainkan cara dan lama pembuatannya. Buat membuat satu rumah, ungkapnya, dibutuhkan ketelitian dan akurasi.

"Paling nggak semiggu (pembuatannya)," aku Ong. “Maka, (pemesanan) rumah ini nggak bisa ~ diburu-buru. Harus jauh-jauh hari pesannya.”

Membuat Rumah dan Seisinya

*
Sebuah rumah arwah bikinan Ong dibanderol antara Rp 2 million hingga Rp 10 juta. Selisih harga menyertainya tergantung ukuran dan berbagai detail yang ada di dalam rumah tersebut.

Yap, selain rangka rumah, sebuah rumah arwah juga diisi mencapai berbagai perabot mencapai skala apa menyerupai rumah diatas umumnya. Jadi, batin pembuatannya, Ong juga perlu making perabot rumah tangga, mobil, hingga orang-orangan di dalamnya.

Selain itu, rumah kertas itu also terdiri overhead beberapa bagian. Di samping rumah utama, ada also gunung-gunungan, gudang, dan tandu. Nah, detail-detail inilah yang membuat sebuah rumah arwah berharga mahal. Selain itu, rumah tersebut also harus diatur jauh-jauh hari.

Dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas dibakar pada hari ke-40 pasca-kematian seseorang. Seharusnya, ada rentang waktu yang cukup buat keluarga dekrit rumah kertas. Namun, kadang ada pembeli apa memesan dadakan ataukah pengin secepat mungkin mungkin.


baca Juga: hanya di Semarang, koleksi Kaset tape Dijual di di dalam Rumah Makan Padang

Untuk orang yang menginginkan kecepatan, Ong mengaku biasanya hanya akan memberi stok lama, ndak yang benar rekues.

"Kalau begitu, nggakbisa produksi bagus," kata dia, apa sejurus kemudian mengajak saya ke loteng rumahnya karena melihat beberapa stok rumah kertas yang dimilikinya. Rumah kertas apa siap diantarkan juga disimpan di ruang angkasa tersebut.

Oya, di dalam membuat rumah kertas, Ong mengaku punya satu pantangan. Rumah kertas apa dipesan, tuturnya, nggak boleh sama dengan rumah aslinya. Untuk yang satu ini, dia mengatakan pernah punya pengalaman kurang menyenangkan.

“Pernah ada apa (minta dibuatkan rumah mencapai desain) sama. Nanti itu, rumahnya kawanan gangguan,” kenangnya.

Orba, Pandemi, dan Generasi Selanjutnya

*
Di Semarang, bisnis apa dijalankan familial Ong gletser Hok tampak baik-baik saja sekarang. Namun, bukan berarti usaha "Rumah kertas Hok" itu selalu lancar. Selama Orde Baru, segala hal apa berhubungan dengan etnis Tionghoa mendesak dibatasi, implisit bisnis rumah arwah keluarganya.

“Dulu, zaman Pak Karno (Presiden Sukarno) ~ masih ada sekolah Tionghoa. Ke itu, nggak ada sampai sekarang,” keluh Ong.

Selama Indonesia dipimpin Soeharto, Ong menambahkan, kakek dan ayahnya mencoba bertahan di dalam segala keterbatasan. Ke rezim Orba lengser, situasinya baru perlahan membaik, bahkan keian benerang usai dipimpin Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Saat ini, usaha rumah kertas milik lelaki yang kini berusia 71 five itu nggak hanya dikenal people Semarang. Pembelinya juga datang dari kota-kota lain, panggilan saja misalnya Wonosobo, Purwokerto, Magelang, dan Muntilan.

Rumah kertas Hok didatangi pembeli untuk kualitasnya yang terjaga. Kendati usaha rumah kertas kini cantik semakin banyak, Ong mengatakan, kebanyakan setiap orang membuatnya dengan kualitas apa pas-pasan.


berpengalaman Juga: start Usaha Kopimu mencapai Konsultasi kebebasan di Kopen Semarang

Namun demikian, dialah nggak memungkiri, menjamurnya bisnis rumah kertas di Semarang dan sekitarnya juga memengaruhi pesanan di tempatnya. Terlebih, di pusat pandemi, pembatasan acara keagamaan pun keian menyurutkan jumlah pesanan rumah arwah di tempatnya.

Meski begitu, Ong mengaku bersyukur lantaran hingga kini bisnisnya masih bertahan. Tugasnya menampakkan adalah search penerus, pulih dia sudah nggak anak laki-laki lagi.

Lihat lainnya: Han Ga In Dan Suaminya - Segala Hal Tentang Pernikahan Han Ga

“Ada (penerus), nanti anak saya. Tradisi kalau menurut saya, jangan sampai hilang. Harus diteruskan, meski nantinya akan berkurang,” pungkasnya.

Di pusat tradisi yang kian retas, semoga produksi rumah kertas nggak bernasib nahas! Kamu pernah menyaksikan menggoyangkan rumah arwah juga, Millens?(Audrian F/E03)